Mengurai Benang Kusut Pengelolaan Wisata Garut

Daftar Isi


Garut dianugerahi Tuhan dengan lanskap alam yang luar biasa—dari kawah belerang yang eksotis hingga garis pantai yang memukau. Namun, keelokan alami ini seolah tertutup oleh kabut tebal salah urus yang kronis. Alih-alih menjadi lokomotif ekonomi, sektor pariwisata Garut justru terjebak dalam lingkaran setan problematika yang tak kunjung usai.

Potret Buram: Dari Jalan Berlubang hingga Pungli yang Meraja

Keluhan wisatawan yang berkunjung ke Garut memiliki nada yang sama: akses jalan yang memprihatinkan. Infrastruktur menuju destinasi unggulan seringkali sempit dan rusak berat, menciptakan pengalaman perjalanan yang melelahkan sebelum sampai ke tujuan.

Setibanya di lokasi, wisatawan sering kali disambut oleh "penyakit" lama yang sulit disembuhkan: Pungutan Liar (Pungli). Dari parkir yang tidak resmi hingga tarif masuk berlapis, praktik ini menciptakan citra buruk yang membuat pelancong enggan kembali. Kondisi ini diperparah dengan:

 * Fasilitas yang Terbengkalai: Toilet yang kotor, musala yang tidak terawat, serta wahana yang rusak dan membahayakan keselamatan.

 * Darurat Sampah: Tidak adanya sistem pengelolaan limbah yang mumpuni membuat kawasan wisata berubah menjadi tempat pembuangan sampah visual.

 * Kerusakan Lingkungan: Alih fungsi lahan demi ambisi wisata tanpa kajian lingkungan telah merusak daerah resapan air, memicu risiko bencana di kemudian hari.

Ekonomi yang Tak Menetes ke Bawah

Ironisnya, carut-marut ini dibarengi dengan minimnya pemasukan ke kas daerah (PAD). Kebocoran anggaran dan sistem tiketing yang belum terdigitalisasi membuat potensi pendapatan menguap begitu saja.

Lebih menyedihkan lagi, warga sekitar objek wisata seringkali hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Tanpa pemberdayaan dan konsep Community Based Tourism yang jelas, keberadaan objek wisata tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Belajar dari Keberhasilan: Contoh Pengelolaan yang Ideal

Garut perlu berkaca pada daerah yang berhasil mengubah pariwisata menjadi industri yang sehat dan berkelanjutan.

1. Desa Wisata Penglipuran, Bali (Manajemen Berbasis Komunitas)

Penglipuran adalah contoh emas bagaimana warga lokal dilibatkan penuh. Mereka mengelola sampah dengan sistem mandiri, menjaga estetika bangunan, dan membagi hasil keuntungan secara transparan kepada desa adat. Hasilnya? Lingkungan tetap asri, budaya terjaga, dan ekonomi warga meroket.

2. Kawasan Wisata Umbul Ponggok, Klaten (Transparansi & Profesionalitas)

Dahulu hanya kolam desa biasa, kini menjadi magnet nasional. Kuncinya adalah pengelolaan di bawah BUMDes yang profesional dan transparan. Pendapatan desa melonjak hingga miliaran rupiah per tahun, yang kemudian diputar kembali untuk asuransi kesehatan warga dan beasiswa pendidikan.

Langkah Mendesak untuk Pembenahan

Untuk memulihkan pariwisata Garut, diperlukan keberanian politik (political will) dari pemerintah daerah untuk:

 * Audit Total: Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kontrak kerja sama dengan pihak ketiga.

 * Digitalisasi Satu Pintu: Menerapkan sistem e-ticketing untuk menutup celah pungli dan kebocoran PAD.

 * Konservasi Lingkungan: Memperketat izin bangunan di area resapan air dan mewajibkan pengolahan sampah di tempat.

 * Infrastruktur Prioritas: Memperbaiki akses jalan utama menuju destinasi wisata sebagai bentuk pelayanan dasar.

Pariwisata bukan sekadar menjual tiket masuk, melainkan menjual kenyamanan, keamanan, dan kenangan. Jika Garut tidak segera berbenah, keindahan alamnya hanya akan tinggal sejarah yang tertutup oleh tumpukan sampah dan carut-marut birokrasi