Orang Sunda yang Tertinggal di Negeri Sendiri

Daftar Isi


Ada satu ironi besar yang jarang dibicarakan dengan jujur di ruang publik: kekayaan hampir selalu tumbuh di tangan yang sudah kaya, sementara kemiskinan cenderung diwariskan kepada mereka yang sejak awal hidup dalam keterbatasan. Bukan semata karena bakat, bukan pula karena kemalasan, melainkan karena perbedaan akses terhadap ilmu, pendidikan, jaringan, dan cara berpikir tentang uang itu sendiri. Di banyak negara, termasuk Indonesia, kita bisa melihat pola yang hampir seragam. Kelompok yang memiliki pendidikan tinggi, literasi keuangan yang baik, serta akses pada sumber daya strategis akan terus memutar uangnya dengan cara-cara yang makin canggih. Sementara itu, sebagian besar masyarakat akar rumput—termasuk orang Sunda di pedesaan dan pinggiran kota—masih harus bergulat dengan persoalan paling dasar: harga beras, biaya sekolah anak, dan kebutuhan hidup harian yang tak pernah benar-benar longgar.

Orang kaya jarang membicarakan uang hanya sebagai alat tukar. Bagi mereka, uang adalah alat produksi. Uang dipelajari, dipahami, dipetakan risikonya, lalu dikembangkan. Anak-anak mereka sejak kecil diperkenalkan pada cara berpikir jangka panjang: menabung bukan sekadar menyimpan, tetapi mengalokasikan; bekerja bukan sekadar mencari upah, tetapi membangun aset; sekolah bukan hanya mengejar nilai, tetapi membangun jaringan sosial dan simbol kepercayaan. Pendidikan tinggi menjadi pintu masuk ke dunia yang lebih luas: akses ke informasi, ke institusi keuangan, ke hukum, ke teknologi, dan ke jejaring global. Di titik ini, kekayaan tidak lagi bertambah secara linear, tetapi eksponensial. Satu generasi menyiapkan fondasi, generasi berikutnya tinggal memperluas.

Sebaliknya, bagi banyak orang Sunda, terutama di wilayah agraris dan kelas pekerja, uang masih dipahami dalam kerangka bertahan hidup. Penghasilan datang, lalu habis untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak ada ruang untuk gagal, tidak ada ruang untuk eksperimen, apalagi investasi jangka panjang. Pendidikan sering kali dipandang sebagai beban biaya, bukan sebagai alat mobilitas sosial. Sekolah tinggi dianggap mahal dan tidak pasti hasilnya, sementara kebutuhan hari ini bersifat mendesak. Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan pola pikir jangka pendek: yang penting bisa kerja, yang penting ada penghasilan, meski kecil dan rapuh. Bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi karena sistem kehidupan memaksa mereka demikian.

Di sinilah jarak itu melebar. Kelompok kecil—sering disebut minoritas ekonomi—bukan hanya memiliki uang lebih banyak, tetapi juga memiliki “ilmu tentang uang”. Mereka tahu cara memanfaatkan pajak, kredit, kepemilikan aset, diversifikasi, dan bahkan krisis. Ketika krisis datang, mereka membeli. Ketika harga jatuh, mereka masuk. Ketika ekonomi pulih, mereka sudah berada di depan. Sementara masyarakat bawah justru paling terpukul saat krisis, karena satu-satunya aset mereka adalah tenaga dan waktu, yang nilainya justru turun ketika ekonomi memburuk.

Masalahnya bukan pada etnis atau budaya semata, melainkan pada struktur kesempatan yang timpang dan warisan cara berpikir yang berbeda. Budaya Sunda sejatinya kaya akan nilai kehati-hatian, kebersahajaan, dan harmoni sosial. Namun nilai-nilai ini sering kali tidak diiringi dengan literasi ekonomi modern. Sikap “cukup”, “ulah ribet”, dan “nu penting rukun” dalam konteks ekonomi yang keras bisa berubah menjadi jebakan. Ketika dunia bergerak cepat dengan data, teknologi, dan modal, sikap pasrah dan nrimo bukan lagi kebijaksanaan, melainkan kerentanan.

Yang lebih menyedihkan, ketimpangan ini sering dinormalisasi. Orang miskin dianggap wajar hidup pas-pasan. Anak petani dianggap wajar tidak kuliah tinggi. Ketika ada yang mencoba naik kelas, ia justru dicurigai, dianggap aneh, atau bahkan ditarik kembali oleh beban sosial keluarga. Di sisi lain, keberhasilan kelompok kaya dianggap hasil kerja keras semata, seolah-olah mereka tidak dibantu oleh warisan struktur, akses, dan privilese sejak awal.

Jika kondisi ini dibiarkan, maka jurang itu tidak akan pernah tertutup. Orang kaya akan makin kaya, bukan karena mereka lebih bermoral, tetapi karena mereka lebih siap. Sementara masyarakat Sunda akan terus berkutat pada masalah dasar, bukan karena mereka bodoh, tetapi karena tidak pernah benar-benar diberi alat untuk melompat. Pendidikan rendah melahirkan pekerjaan rentan, pekerjaan rentan melahirkan pendapatan rendah, dan pendapatan rendah kembali membatasi pendidikan generasi berikutnya. Sebuah lingkaran yang kejam namun sunyi.

Membicarakan hal ini bukan untuk menabur kebencian atau iri, tetapi untuk membuka mata. Bahwa kemiskinan bukan takdir budaya, dan kekayaan bukan monopoli etnis tertentu. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif: bahwa ilmu tentang uang harus dibumikan, pendidikan harus dibuat relevan dan terjangkau, dan masyarakat akar rumput harus diberi ruang untuk berpikir jangka panjang tanpa terus dicekik oleh kebutuhan harian. Tanpa itu semua, kita hanya akan terus menyaksikan satu kelompok melaju dengan mobil cepat di jalan tol pengetahuan, sementara yang lain berjalan kaki di jalan rusak, sambil heran mengapa jarak tak pernah mengecil.