Erosi Identitas dan Rekonstruksi Eksistensi Budaya Sunda di Era Global: Sebuah Tinjauan Sosiokultural

Daftar Isi


Identitas budaya merupakan fondasi fundamental bagi sebuah peradaban untuk mempertahankan eksistensinya di tengah arus perubahan zaman. Bagi masyarakat Sunda, identitas bukan sekadar atribut geografis atau linguistik, melainkan sebuah filosofi hidup yang terangkum dalam nilai Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh. Namun, realitas sosiologis menunjukkan bahwa masyarakat Sunda saat ini tengah berada dalam pusaran krisis identitas yang mengkhawatirkan. Fenomena ini ditandai dengan memudarnya penggunaan bahasa Ibu, pergeseran orientasi nilai etika, serta dominasi budaya populer global yang menggeser tradisi lokal ke ruang marjinal. Kehilangan identitas ini bukanlah proses yang terjadi secara mendadak, melainkan hasil dari akumulasi tekanan modernitas, urbanisasi, dan kebijakan pendidikan yang kurang memberikan ruang bagi penguatan basis kearifan lokal.

Penyebab utama dari terkikisnya identitas Sunda terletak pada rendahnya kesadaran kolektif terhadap pentingnya bahasa Sunda sebagai instrumen utama pemikiran budaya. Saat ini, banyak generasi muda di Jawa Barat yang merasa lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris dibandingkan bahasa Sunda, yang sering kali dipandang sebagai bahasa yang kuno atau kurang prestisius. Hal ini mengakibatkan terputusnya transmisi nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam struktur bahasa tersebut. Selain itu, pola hidup masyarakat yang semakin individualis di pusat-pusat perkotaan telah menggerus sistem kekerabatan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masarakat lembur. Modernitas yang tidak dibarengi dengan filter budaya yang kuat menyebabkan masyarakat Sunda mengalami disorientasi, di mana mereka menjadi konsumen budaya asing tanpa memiliki akar yang kokoh pada jatidirinya sendiri.

Untuk mengembalikan identitas Sunda yang kian memudar, diperlukan langkah-langkah strategis yang bersifat sistemis dan berkelanjutan. Langkah pertama dan yang paling krusial adalah revitalisasi bahasa melalui jalur pendidikan formal dan informal. Bahasa Sunda tidak boleh hanya diajarkan sebagai muatan lokal yang bersifat pelengkap, melainkan harus diintegrasikan sebagai bahasa pengantar kreativitas dan ekspresi diri. Pemerintah daerah bersama akademisi perlu merumuskan kurikulum yang berbasis pada konteks kekinian, sehingga nilai-nilai Sunda dapat dipahami oleh generasi Z dan Alpha dalam bahasa yang relevan bagi mereka. Penggunaan teknologi digital, seperti pembuatan konten kreatif berbasis budaya Sunda di media sosial, dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap identitas lokal di mata kaum muda.

Langkah kedua adalah restrukturisasi nilai etika Sunda Wiwitan atau filosofi hidup Sunda ke dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup penguatan kembali etika berkomunikasi (tatakrama) dan perilaku sosial yang humanis. Pemimpin daerah, tokoh masyarakat, dan orang tua harus menjadi role model dalam mempraktikkan nilai-nilai kesundaan yang inklusif dan progresif. Identitas Sunda tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang eksklusif atau chauvinistik, melainkan sebagai kontribusi unik bagi keberagaman nasional. Dengan menghidupkan kembali ruang-ruang publik yang berbasis komunitas, seperti pusat kesenian dan diskusi budaya di setiap desa atau kelurahan, masyarakat akan memiliki wadah untuk berinteraksi dan mengonstruksi kembali memori kolektif mereka tentang apa artinya menjadi "orang Sunda".

Akhirnya, keberhasilan pengembalian identitas Sunda sangat bergantung pada kemauan kolektif untuk melakukan rekonsiliasi antara tradisi dan modernitas. Masyarakat Sunda harus mampu mengambil posisi sebagai subjek dalam globalisasi, bukan sekadar objek. Ini berarti nilai-nilai luhur seperti cageur, bageur, bener, pinter, tur pineunjul harus diterjemahkan ke dalam kompetensi global. Identitas yang kuat lahir dari rasa memiliki yang mendalam terhadap sejarah dan budaya sendiri, yang kemudian dipadukan dengan wawasan luas ke masa depan. Dengan sinergi antara kebijakan pemerintah, peran institusi keluarga, dan kreativitas generasi muda, identitas Sunda dapat bangkit kembali sebagai kekuatan moral dan kultural yang kokoh di tengah dinamika peradaban dunia.