Ketika Identitas Sunda Dipertukarkan dengan Konten Murahan

Daftar Isi


 Akhir-akhir ini, jadi orang Sunda terasa gampang. Cukup pakai logat dilebih-lebihkan, kata-kata dipelesetkan, atau pakaian adat dijadikan bahan lucu-lucuan, lalu konten dianggap mewakili budaya. Ditonton banyak orang, dibagikan, tertawa sebentar, selesai. Identitas Sunda pun ikut selesai di situ.

Tidak salah bercanda. Humor selalu jadi bagian dari kehidupan orang Sunda. Masalahnya, ketika yang tersisa dari identitas hanya bahan lelucon, ada yang pelan-pelan hilang. Bahasa jadi sekadar aksen, adat jadi kostum, dan nilai hidup tidak pernah ikut dibicarakan.

Banyak konten mengatasnamakan Sunda, tapi isinya justru merendahkan. Orang Sunda digambarkan lugu berlebihan, pasrah, atau sekadar lucu. Lama-lama gambaran itu diterima sebagai kebenaran. Yang nonton tertawa, yang ditertawakan ikut tertawa, tanpa sadar harga diri ikut terkikis.

Ironisnya, konten seperti ini sering dibela atas nama pelestarian budaya. Katanya supaya Sunda tetap dikenal. Padahal dikenal saja tidak cukup, kalau yang dikenal hanya kulitnya. Budaya bukan sekadar dikenalkan, tapi dipahami dan dihidupi.

Yang lebih mengkhawatirkan, generasi muda mengenal Sundanya dari potongan konten pendek. Mereka hafal kata lucunya, tapi asing dengan maknanya. Mereka tahu gaya bercandanya, tapi tidak tahu nilai sopannya. Identitas berubah jadi hiburan cepat saji.

Padahal budaya Sunda punya kedalaman. Ada cara berbicara yang menjaga perasaan orang lain, ada sikap hidup yang menghindari benturan, ada rasa hormat yang tidak selalu keras tapi konsisten. Semua itu sulit jadi viral, karena butuh waktu untuk dipahami. Dan di situlah masalahnya: yang pelan kalah oleh yang cepat.

Bukan berarti orang Sunda harus selalu serius. Tapi ada batas antara tertawa bersama dan menertawakan diri sendiri sampai lupa siapa kita. Kalau identitas terus diperdagangkan demi klik dan tayangan, lama-lama kita sendiri yang kehabisan makna.

Identitas bukan warisan yang otomatis aman. Ia bisa terkikis pelan-pelan, bukan oleh serangan luar, tapi oleh cara kita sendiri memperlakukannya. Ketika budaya hanya dijadikan konten murahan, yang hilang bukan hanya citra, tapi arah.

Kalau orang Sunda ingin tetap dihormati, kita harus mulai menghormati diri sendiri. Bukan dengan marah-marah, tapi dengan memilih: mana yang sekadar lucu, mana yang merendahkan. Karena identitas yang dijaga dengan sadar akan bertahan jauh lebih lama daripada yang dijual murah di layar.