Bobibos Mimpi Indah anak bangsa yang Gampang Terbantahkan
Gagasan bahwa limbah pertanian seperti jerami bisa diubah menjadi bahan bakar cair setara bensin dengan biaya rendah dan mudah diakses memang sangat menggoda. Prinsipnya terasa manis: jerami padi banyak tersedia di seluruh pedesaan Indonesia — bukan komoditas mewah atau impor — jadi bisa dimanfaatkan untuk energi, mengurangi ketergantungan pada minyak bumi, sekaligus memberi nilai tambah bagi petani. Tapi ketika kita menggali lebih dalam dari sisi ilmu dan realitas produksi, kenyataannya jauh lebih rumit — dan sering jauh dari janji manis.
Jerami dan sisa tanaman lainnya termasuk dalam kelompok biomassa lignoselulosa, yaitu biomassa yang mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Struktur ini bukan struktur sederhana seperti karbohidrat atau gula — ini adalah struktur kompleks tiga dimensi, di mana selulosa dan hemiselulosa dibungkus rapat oleh lignin. Untuk mengubah biomassa ini menjadi bahan bakar cair (entah bioetanol, bio-oil, atau “bio-crude” yang bisa disuling jadi bensin / diesel) diperlukan serangkaian tahapan konversi yang kompleks dan mahal. Pertama, biasanya biomassa harus melalui praproses (pretreatment) untuk “melemahkan” struktur selulosa/lignin — melalui perlakuan kimia, fisik, atau termokimia. Tanpa praproses memadai, sangat sulit untuk memecah selulosa/hemiselulosa menjadi gula sederhana. Setelah itu diperlukan hidrolisis (dengan enzim atau katalis), fermentasi (jika membuat bioetanol), atau proses termokimia lanjut seperti pirolisis, gasifikasi, atau hydrothermal liquefaction (HTL) jika ingin bahan bakar cair hidrokarbon. Semua tahap ini membutuhkan peralatan khusus, kontrol suhu dan tekanan, serta energi besar — jauh dari proses “sederhana” yang bisa dilakukan di bengkel atau pabrik skala kecil tanpa investasi besar.
Bahkan inisiatif penelitian yang menggunakan metode paling “efisien” seperti HTL menunjukkan banyak keterbatasan. Dalam satu penelitian dengan kayu keras (hardwood) seperti kayu meranti, konversi via HTL pada suhu tinggi bisa menghasilkan bio-oil dan biochar. Namun yield, sifat fisik dan kimia produk sangat bergantung pada parameter — dan produk akhir tetap perlu purifikasi tambahan agar mendekati standar bahan bakar mesin. Bila feedstock berubah (misalnya jerami dibanding kayu), hasil bisa jauh lebih buruk. Bio-oil dari HTL sering kali tidak stabil, mengandung banyak oksigen, nitrogen, atau senyawa berpolar — sehingga perlu proses upgrade (seperti hydrotreating) untuk mengubahnya menjadi bahan bakar cair berkualitas. Proses upgrade ini sendiri rumit, membutuhkan hidrogen, katalis, reaktor tekanan tinggi, dan konsumsi energi besar.
Masalah teknis bukan satu-satu — dari sisi ekonomi dan logistik juga sangat berat. Untuk bisa diproduksi secara massal dan terjangkau, biofuel dari jerami membutuhkan rantai pasokan yang stabil: pengumpulan jerami dalam jumlah besar, pengeringan (jerami biasanya berair atau basah), transportasi ke pabrik, penyimpanan, kemudian pemrosesan. Semua ini memerlukan infrastruktur yang mapan, biaya tinggi, dan manajemen rantai pasok yang baik. Dalam studi dan ulasan ilmiah tentang biofuel generasi kedua (yang menggunakan residu pertanian / biomassa non-makanan), banyak peneliti menunjukkan bahwa meskipun potensial, tantangan terbesar adalah: supply feedstock, biaya pretreatment, harga enzim atau katalis, efisiensi konversi, dan biaya purifikasi akhir. Hingga sekarang, sangat sedikit proyek yang berhasil beralih dari skala laboratorium ke skala industri secara ekonomis.
Sikap optimis terhadap biofuel lignoselulosa — dalam wacana dan iklan — sering terbayang sebagai solusi energi hijau: rendah karbon, memanfaatkan limbah, membantu petani, dan murah. Tapi kenyataannya: perbedaan besar antara potensi di laboratorium dengan realisasi di lapangan. Banyak proyek besar di dunia (termasuk di negara maju) harus berhenti di tahap percobaan atau pilot, karena biaya terlalu tinggi, hasil tidak stabil, teknik susah di-scale up, dan sulit bersaing dengan bahan bakar fosil (yang infrastrukturnya sudah sangat matang).
Salah satu studi komprehensif terbaru membahas “biofuel generasi kedua” dari limbah pertanian dan non-makanan. Studi ini menemukan bahwa meskipun biofuel dari biomassa non-makanan secara teoritis bisa mengurangi emisi dan tidak bersaing dengan pangan, kenyataannya produksi komersialnya masih terhalang oleh “biaya tinggi” dan kebutuhan teknologi lanjutan. Produksi tetap dominan di laboratorium atau skala kecil, dan belum menunjukkan daya saing terhadap bensin/diesel fosil dalam hal harga, stabilitas, dan kemudahan distribusi.
Dalam studi lain yang menggunakan HTL pada limbah biomassa, yield bio-oil bisa cukup besar, tetapi sifat kimianya sering kurang ideal: banyak oksigen, nitrogen, dan senyawa polar — yang membuat bahan itu tidak bisa langsung dipakai sebagai bensin atau diesel tanpa hydrotreating berat. Hidro-treating ini sendiri butuh energi, hidrogen, dan katalis mahal — pada akhirnya mengikis keuntungan biaya atau “hemat” yang diharapkan dari biofuel.
Selain itu, feedstock seperti jerami sangat bervariasi — dari segi kelembapan, kandungan selulosa/lignin, kadar abu, dan ukuran fisik — tergantung musim, jenis padi, lokasi, kondisi panen, dan cara penyimpanan. Variabilitas ini membuat proses produksi sulit distandarkan. Untuk membuat biofuel massal, pabrik harus bisa menangani feedstock yang berbeda-beda dengan konsistensi — suatu hal yang di dunia bioenergi sampai sekarang masih menjadi tantangan besar.
Dengan mempertimbangkan semua ini — kompleksitas teknis, biaya tinggi, kebutuhan infrastruktur, variabilitas feedstock, dan kebutuhan purifikasi — klaim bahwa dari jerami bisa langsung dibuat “bensin setara RON 98, murah, lokal, dan siap edar massal” tampak sangat jauh dari realitas. Ada perbedaan besar antara “mimpi idealis” dan “hasil nyata di lapangan.”
Kesimpulannya, meskipun ide biofuel dari jerami adalah visi yang menarik — secara teori sangat cocok untuk negara agraris seperti Indonesia — kemungkinan untuk mewujudkannya sebagai bahan bakar mesin ramah lingkungan, murah, dan massal sangat kecil tanpa investasi besar, teknologi tinggi, dan komitmen jangka panjang. Skenario seperti itu lebih layak dianggap sebagai wacana atau harapan normatif daripada rencana realistis. Bagi siapa pun yang mengandalkan klaim besar seperti “bensin dari jerami” sekarang — termasuk kita — sebaiknya tetap skeptis, hingga ada bukti ilmiah kuat yang diuji secara independen, data transparan, serta demonstrasi teknologi dan ekonomi pada skala industri.
