Ironi Pertanian di Tengah Kelemahan sumber daya manusia dan Ketertinggalan Teknologi

Daftar Isi


Dalam banyak diskusi seputar ketertinggalan sektor pertanian di Indonesia, kerap kali kita menyalahkan faktor-faktor eksternal: cuaca, iklim, harga pasar global, hingga kebijakan pemerintah. Namun ada satu faktor yang jarang disorot secara mendalam: Sumber Daya Manusia (SDM) yang lemah dan kurang bertransformasi. Padahal, jika kita melihat negara-negara maju di bidang pertanian, bukan tanah atau cuaca yang mereka andalkan—melainkan manusia dan teknologi yang mereka bentuk secara sadar untuk mengelola pertanian secara ilmiah, modern, dan berkelanjutan.

Ambil contoh Belanda. Negara kecil yang luasnya bahkan tidak sebanding dengan sebagian pulau Jawa ini justru menjadi eksportir produk pertanian nomor dua di dunia. Di sana, pertanian bukan hanya urusan tanam dan panen, tapi soal pengelolaan data, pengembangan benih unggul, kontrol suhu dalam greenhouse, penggunaan drone dan AI, serta kerja sama antara petani, peneliti, dan pemerintah. Petani Belanda tidak buta teknologi. Mereka adalah ilmuwan-lapangan yang memahami hubungan antara pH tanah dan produktivitas, tahu kapan harus tanam berdasarkan data cuaca, dan memasarkan produk pertanian mereka dengan branding yang kuat. Semua itu tidak bisa dicapai tanpa SDM unggul.

Lalu kita lihat Israel. Di negeri yang sebagian besar wilayahnya adalah gurun ini, pertanian tetap menjadi sektor andalan. Bukan karena tanahnya subur, tetapi karena otak manusianya tajam. Mereka menciptakan teknologi irigasi tetes yang hemat air dan tetap menghasilkan panen tinggi. Mereka menanam tomat, melon, dan anggur di tanah yang tidak memberi peluang secara alami. Di Israel, petani dan peneliti adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Keduanya saling bertukar informasi, dan hasilnya adalah pertanian yang tidak bergantung pada kemurahan alam, tetapi pada kepastian ilmu pengetahuan.

Tiongkok dan India juga telah membuktikan bahwa dengan jumlah penduduk sangat besar dan tekanan pangan tinggi, mereka tidak menyerah pada kelangkaan. Tiongkok mengembangkan padi super hibrida dan sistem pertanian presisi dengan bantuan satelit dan drone. India, setelah mengalami kelaparan berkepanjangan di masa lalu, meluncurkan Revolusi Hijau yang menyelamatkan jutaan nyawa. Semua itu berangkat dari keputusan strategis untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian mereka secara sistematis melalui pendidikan, pelatihan, dan investasi teknologi.

Berbanding terbalik dengan itu, kita melihat banyak negara dengan potensi pertanian tinggi yang justru gagal memanfaatkannya karena lemahnya SDM dan buruknya manajemen. Somalia, Sudan Selatan, Haiti, Niger, dan Republik Demokratik Kongo adalah contoh nyata. Mereka memiliki lahan luas, bahkan beberapa memiliki tanah yang sangat subur. Namun karena perang, konflik, kemiskinan, atau ketiadaan sistem pendidikan pertanian, sektor ini terbengkalai. Petani tidak mendapat akses pada benih unggul, tidak memahami metode irigasi modern, dan tidak memiliki akses pasar. Pertanian menjadi pekerjaan paksa, bukan pilihan sadar. Negara-negara ini menunjukkan bahwa tanah subur tanpa manusia cakap hanya akan menghasilkan lapar.

Di sinilah pentingnya kita bercermin. Indonesia dikenal sebagai negara agraris, tanahnya subur, iklimnya tropis, sinar matahari sepanjang tahun, dan keragaman hayatinya luar biasa. Tapi kenapa petani kita tetap miskin? Kenapa kita masih mengimpor beras, garam, kedelai, dan bawang putih? Jawabannya bukan semata-mata pada tanah, tapi pada siapa yang mengelolanya. Banyak petani kita masih belum mengenal pH tanah, tidak terbiasa membaca data cuaca, atau tidak tahu cara menyimpan hasil panen agar tahan lama. Regenerasi petani juga terhenti. Anak-anak muda tidak tertarik menjadi petani karena melihatnya sebagai pekerjaan kotor, miskin, dan tanpa masa depan. Padahal di Jepang dan Korea Selatan, pertanian adalah profesi prestisius yang berbasis teknologi dan riset, bahkan jadi bagian dari gaya hidup modern dan agrowisata.

Jika kita tidak segera mengubah wajah pertanian Indonesia melalui investasi serius pada SDM—mulai dari pendidikan, pelatihan, teknologi, hingga insentif bagi petani muda—maka kita tidak hanya akan kalah bersaing di pasar pangan global, tetapi juga terancam oleh krisis pangan dalam negeri. Kita butuh “petani generasi baru”—yang tak hanya bisa menanam, tapi juga berpikir seperti manajer, ilmuwan, dan wirausahawan. Petani yang bisa memanfaatkan teknologi sederhana seperti irigasi tetes dan pupuk hayati, hingga teknologi canggih seperti sensor tanah, e-commerce, dan pemetaan digital.

Negara-negara seperti Brasil, Australia, dan Swiss juga telah menunjukkan bahwa meskipun menghadapi iklim ekstrem, keterbatasan lahan, atau medan gunung yang curam, mereka tetap bisa menjadikan pertanian sebagai kekuatan ekonomi nasional. Semua berawal dari kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dan kualitas manusia adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa ditunda. Indonesia punya potensi yang luar biasa, tetapi potensi tanpa strategi dan tanpa SDM berkualitas hanya akan menjadi retorika tanpa hasil.

Jika ingin mengubah nasib petani dan mewujudkan kedaulatan pangan, maka langkah pertama dan paling penting adalah: mendidik manusia yang akan mengelola tanah itu. Kita tidak sedang kekurangan lahan, kita sedang kekurangan manusia yang bisa memimpin tanah itu dengan ilmu, visi, dan ketekunan. Di situlah revolusi pertanian sesungguhnya dimulai—not from the soil, but from the soul of the people who till it.