Garut dan malang adalah kota Wisata di jaman Kolonial... Tapi sekarang???

Daftar Isi


Bagi warga Garut yang pernah merantau atau sekadar berlibur ke kawasan Malang Raya (Kota Malang dan Kota Batu) di Jawa Timur, pasti sering merasakan perbedaan yang mencolok. Sama-sama berada di dataran tinggi, berudara sejuk, dan dikelilingi pegunungan indah, mengapa tata kota Malang dan Batu terasa lebih rapi, sementara kawasan Garut Kota (terutama area Pengkolan) saat ini terasa kian padat dan semrawut?
Ternyata, perbedaan ini bukan sekadar masalah tata kelola hari ini, lho. Ada sejarah panjang, cetak biru (blueprint) masa kolonial, hingga status administrasi yang mempengaruhinya. Yuk, kita bedah satu per satu!

1. Warisan Masa Lalu: Malang Dirancang Ahli, Garut Tumbuh Alami

Pada masa Hindia Belanda, Malang sengaja dipersiapkan menjadi kota modern (gemeente). Pemerintah kolonial bahkan menyewa Ir. Herman Thomas Karsten, seorang arsitek dan pakar tata kota paling terkemuka kala itu. Karsten merancang Malang dengan cetak biru yang matang: memisahkan zona industri dengan pemukiman, membangun banyak taman publik, serta membuat jalan-jalan protokol yang lebar (seperti kawasan Ijen).
Bagaimana dengan Garut? Di masa lalu, Garut tidak dirancang untuk menjadi kota besar berpenduduk padat. Garut tumbuh secara alami sebagai kota transit logistik hasil perkebunan teh/kopi dan pusat pelesiran kecil (sehingga dijuluki Switzerland van Java). Struktur jalannya bersifat linier alias memanjang mengikuti rute utama. Ketika populasi kendaraan meledak seperti sekarang, jalan-jalan utama di Garut Kota yang sempit langsung kewalahan menampung volume arus lalu lintas.

2. Status Administrasi: Kota Batu Fokus Wisata, Garut Urus Wilayah Luas

Faktor kedua adalah fokus anggaran dan manajemen wilayah. Kota Batu beruntung karena sejak tahun 2001 resmi berpisah dari Kabupaten Malang dan menjadi Kota Otonom. Wilayahnya relatif kecil dan fokusnya cuma satu: pariwisata. Pemerintahnya jadi lebih mudah mengendalikan tata ruang, memetakan jalur pedestrian, dan mengatur zonasi wisata agar tidak bentrok dengan area hijau.
Kondisinya berbeda dengan Garut. Pusat kota yang kita sebut "Garut Kota" sebenarnya berstatus sebagai ibu kota dari Kabupaten Garut. Artinya, Pemerintah Daerah Garut harus membagi fokus, energi, dan anggaran yang sangat besar untuk mengurus 42 kecamatan dari Garut Utara hingga Garut Selatan yang wilayahnya sangat luas. Akibatnya, penataan wilayah perkotaan (urban planning) di pusat kota sering kali harus berbagi prioritas dengan pembangunan infrastruktur desa dan pertanian.

3. Hambatan Samping dan Ledakan Pusat Keramaian

Jika kita berjalan ke area Pengkolan atau Jalan Ahmad Yani, tumpukan kendaraan, aktivitas parkir, hingga area pedagang yang tumpah ke badan jalan menjadi pemandangan sehari-hari. Sebagai pusat urat nadi perekonomian, area ini menanggung beban terlalu berat karena semua aktivitas komersial bertumpuk di satu titik, sementara jalan alternatif di dalam kota sangat terbatas.
Sebaliknya, Malang dan Batu memiliki jaringan jalan radial (bercabang) yang sudah terbentuk sejak zaman dulu. Jalur alternatif antar-kecamatan di sana melimpah, sehingga ketika terjadi kemacetan di satu titik wisata, arus kendaraan bisa langsung dipecah ke jalur lain tanpa mengunci pusat kota.

Harapan Baru untuk Tata Kota Garut

Meski saat ini terasa semrawut, Garut sebenarnya sedang berbenah. Proyek pengerjaan Jalan Lingkar Luar (seperti jalur Kadungora-Leles) perlahan mulai memecah kendaraan yang hendak masuk ke pusat kota. Ditambah lagi, rencana megaproyek Jalan Tol Getaci (Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap) di masa depan diharapkan bisa menjadi solusi jangka panjang untuk menata kembali mobilitas dan wajah perkotaan Garut.
Bagaimana tanggapan wargi Garut? Sektor mana di Garut Kota yang menurutmu paling mendesak untuk ditata ulang saat ini? Tulis di kolom komentar, ya!