Rendahnya literasi keselamatan berkendara di masyarakat kita.

Daftar Isi


Fenomena jalan raya di Indonesia sering kali berubah menjadi panggung sandiwara yang berbahaya, di mana aspal publik dianggap sebagai sirkuit pribadi oleh segelintir orang. Kita sudah terlalu sering menyaksikan pemandangan pemuda atau oknum pengendara yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, melakukan selap-selip ekstrem di antara kendaraan yang padat, hingga melakukan aksi angkat roda depan (standing) tanpa menggunakan perlengkapan keselamatan yang memadai. Perilaku ini bukan sekadar pelanggaran lalu lintas biasa, melainkan cerminan dari egoisme yang dibalut dengan rasa percaya diri semu. Mereka merasa memiliki nyali yang besar, padahal kenyataannya apa yang mereka lakukan adalah bentuk kebodohan yang nyata karena mengabaikan hak hidup dan keselamatan orang lain yang juga menggunakan fasilitas umum tersebut.

Motivasi utama di balik aksi kebut-kebutan ini biasanya berakar pada kebutuhan akan pengakuan sosial atau sekadar "gaya-gayaan" agar terlihat keren di mata teman sebaya atau di media sosial. Sayangnya, konsep keren yang mereka anut sangatlah dangkal dan salah kaprah. Keberanian yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa berani seseorang menantang maut di jalanan yang penuh dengan ibu-ibu ke pasar atau anak sekolah, melainkan tentang tanggung jawab atas keselamatan diri dan orang lain. Ironisnya, keberanian yang mereka pamerkan di jalanan umum ini seketika akan menguap jika mereka dihadapkan pada arena balap yang sesungguhnya. Di sirkuit resmi, ada aturan ketat, standar keselamatan tinggi, dan yang paling penting adalah adanya lawan yang memiliki kemampuan setara.

Ketimpangan antara nyali di jalanan dan prestasi di ajang internasional seperti MotoGP menjadi bukti nyata bahwa aksi kebut-kebutan di jalan raya hanyalah perilaku pengecut yang mencari panggung di tempat yang salah. Jika memang benar mereka memiliki bakat dan keberanian yang luar biasa dalam mengendalikan mesin berkecepatan tinggi, seharusnya energi tersebut disalurkan ke pembinaan atlet balap profesional. Namun, realitanya sangat pahit; Indonesia masih sangat kesulitan melahirkan pembalap yang mampu bersaing secara konsisten di kasta tertinggi balap motor dunia. Hal ini terjadi karena balapan profesional menuntut disiplin, teknik, fisik yang prima, dan kecerdasan taktis, bukan sekadar memutar tuas gas dalam-dalam tanpa perhitungan seperti yang dilakukan para "koboi jalanan" ini.

Fenomena ini juga menunjukkan rendahnya literasi keselamatan berkendara di masyarakat kita. Banyak yang merasa bangga ketika berhasil menyalip kendaraan lain dengan jarak hanya beberapa sentimeter, tanpa menyadari bahwa satu kesalahan kecil bisa berujung pada hilangnya nyawa. Mereka merasa kebal atau merasa paling mahir, padahal jalan raya adalah ruang dinamis yang penuh dengan variabel tak terduga. Kehadiran pengendara yang arogan ini menciptakan rasa tidak aman bagi masyarakat luas, mengubah perjalanan yang seharusnya tenang menjadi penuh kecemasan. Mentalitas "bernyali tapi bodoh" ini harus segera dihentikan dengan penegakan hukum yang tegas serta edukasi yang menyasar langsung pada akar masalah, yaitu rasa butuh pengakuan yang salah tempat.

Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa jalan raya adalah ruang berbagi, bukan ruang untuk pamer kekuatan atau nyali yang tak berdasar. Menjadi pembalap hebat membutuhkan keringat di lintasan balap, bukan sorakan di jalanan pemukiman. Selama kita masih memaklumi perilaku kebut-kebutan dengan dalih kebebasan atau hobi, selama itu pula jalanan kita akan tetap menjadi tempat yang mematikan. Kita butuh lebih banyak pemuda yang berani berprestasi di kancah global dengan standar profesionalisme yang tinggi, bukan mereka yang hanya jago kandang dan merasa hebat karena berani membahayakan nyawa orang tua, anak-anak, dan sesama pengguna jalan lainnya demi sebuah ego yang tidak berguna.