masalah yang selalu terulang ketika musim hujan
Setiap musim hujan datang, cerita yang sama kembali terulang. Air naik, rumah terendam, jalan putus, aktivitas lumpuh. Warga mengeluh, bantuan datang, berita ramai, lalu pelan-pelan semua kembali seperti semula. Sampai hujan berikutnya datang lagi. Seolah banjir sudah diterima sebagai bagian dari takdir, bukan akibat dari kesalahan yang terus diulang.
Padahal hujan bukan hal baru di Garut. Sejak dulu hujan turun, bahkan lebih deras dari sekarang. Yang berubah bukan cuacanya, tapi lingkungannya. Sungai menyempit, bantaran dipenuhi bangunan, hutan di hulu berkurang, dan saluran air diperlakukan seadanya. Air yang dulu meresap kini tidak punya tempat selain meluap.
Ironisnya, setiap kali banjir terjadi, yang disalahkan selalu hujan. Seolah hujan bersalah karena turun terlalu lama. Jarang ada keberanian untuk mengakui bahwa banyak keputusan manusia yang mempercepat datangnya bencana. Pembangunan jalan tanpa drainase yang layak, perumahan di area rawan, dan pembiaran pelanggaran tata ruang semuanya berkontribusi.
Masyarakat pun ikut terjebak dalam kebiasaan. Sampah dibuang ke sungai karena dianggap praktis. Saluran air ditutup karena mengganggu halaman. Semua terlihat kecil, tapi jika dilakukan bersama-sama, dampaknya besar. Sayangnya, kesadaran ini sering muncul hanya saat air sudah masuk rumah.
Yang lebih melelahkan adalah siklus lupa. Setelah banjir surut, yang tersisa hanya lumpur dan lelah. Tidak ada evaluasi serius, tidak ada perubahan nyata. Yang ada hanya janji, wacana, dan harapan agar tahun depan tidak separah ini. Padahal tanpa perubahan, hasilnya bisa ditebak.
Banjir seharusnya menjadi pelajaran, bukan rutinitas. Setiap kejadian adalah tanda bahwa ada yang salah. Tapi jika tanda itu diabaikan terus-menerus, yang rusak bukan hanya rumah dan jalan, melainkan daya tahan masyarakat. Orang menjadi pasrah, tidak lagi berharap banyak.
Garut tidak kekurangan orang pintar atau pengalaman. Yang kurang adalah kemauan untuk belajar dari kejadian berulang. Belajar berarti berani menata ulang, berani menegakkan aturan, dan berani mengubah kebiasaan lama yang merugikan.
Selama banjir masih dianggap biasa, selama itu pula Garut akan terus terendam. Bukan hanya oleh air, tapi oleh sikap enggan berubah. Karena bencana yang paling berbahaya bukan yang datang dari alam, melainkan yang datang dari kebiasaan manusia sendiri.
