Determinisme Geografis dan Evolusi Sosio-Kultural: Analisis Komparatif Karakter Egalitarian Masyarakat Sunda dalam Perspektif Historis-Spasial
Artikel ini mengeksplorasi pengaruh bentang alam pegunungan terhadap pembentukan karakter sosiologis suku Sunda di Jawa Barat. Dengan membandingkan struktur masyarakat agraris lahan kering (huma) di wilayah Sunda dengan masyarakat agraris lahan basah (sawah) di wilayah Jawa bagian tengah dan timur, studi ini menemukan bahwa isolasi geografis dan kemandirian ekonomi telah membentuk pola pikir yang lebih egaliter, namun sekaligus menciptakan tantangan dalam konsolidasi kekuatan politik dan transfer informasi di masa lalu.
I. Pendahuluan: Geografi sebagai Arsitek Peradaban
Dalam kajian geografi manusia, terdapat tesis bahwa karakter suatu bangsa tidak tumbuh di ruang hampa, melainkan dibentuk oleh kontur bumi yang mereka pijak. Wilayah selatan Jawa Barat, yang didominasi oleh rangkaian pegunungan vulkanik dan lembah terisolasi, memberikan prasyarat yang berbeda bagi pertumbuhan peradaban dibandingkan dengan dataran rendah alluvial yang luas di bagian tengah dan timur pulau Jawa.
II. Tipologi Agraris: Hubungan Antara Lahan dan Hierarki Sosial
Perbedaan mencolok antara manifestasi budaya Sunda dan Jawa berakar pada cara masyarakatnya mengelola pangan:
* Masyarakat Sawah (Zaman Kerajaan Jawa):
Pertanian sawah membutuhkan sistem irigasi teknis yang masif. Hal ini memerlukan organisasi kolektif yang sangat disiplin dan kekuasaan pusat yang absolut untuk mengatur distribusi air. Kondisi ini melahirkan struktur sosial yang hierarkis, birokrasi yang kuat, dan ketergantungan pada otoritas (raja).
* Masyarakat Huma (Zaman Klasik Sunda):
Di daerah pegunungan Sunda, masyarakat lebih mengandalkan huma (ladang tadah hujan). Karena tidak membutuhkan irigasi kompleks, unit keluarga dapat berdiri sendiri secara ekonomi di lereng-lereng gunung. Kemandirian ekonomi ini menciptakan individu yang merdeka, tidak bergantung pada kekuasaan pusat, dan secara alami membentuk pola hubungan yang egaliter.
III. Isolasi Topografis dan Dinamika Transfer Ilmu
Observasi lapangan di Jawa Barat bagian selatan menunjukkan bahwa pegunungan bertindak sebagai geographic barrier (hambatan geografis).
* Distribusi Informasi: Di dataran rendah, mobilitas manusia dan ide terjadi secara linear dan cepat. Sebaliknya, di pegunungan, setiap lembah membentuk kantong-kantong budaya yang otonom.
* Dampak pada Manifestasi Fisik: Kurangnya pembangunan monumen megah (seperti Candi Borobudur atau Prambanan) di tanah Sunda bukan merupakan indikator rendahnya intelektualitas, melainkan refleksi dari masyarakat peladang yang berpindah-pindah (semi-nomadic) dan tidak memiliki obsesi pada pemusatan kekuasaan yang absolut.
IV. Genealogi Karakter Egaliter: "Primus Inter Pares"
Egalitarianisme Sunda termanifestasi dalam kepemimpinan yang bersifat Primus Inter Pares (yang utama di antara yang setara). Pemimpin dalam masyarakat Sunda tradisional lebih dipandang sebagai "kakak" atau "ayah" daripada seorang dewa yang tak tersentuh.
* Filosofi Silih: Prinsip Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh hanya mungkin terwujud dalam masyarakat yang memandang sesamanya dalam posisi sejajar.
* Struktur Bahasa: Meskipun pengaruh Mataram membawa tingkatan bahasa (undak-usuk basa), dalam praktik sosiologisnya, interaksi orang Sunda cenderung lebih terbuka dan santai (someah).
V. Tantangan dan Peluang di Era Modernitas
Analisis mengenai "ketertinggalan" pola pikir harus dilihat secara kritis.
* Kelemahan: Karakter yang terlalu egaliter dan mandiri seringkali menyulitkan terbentuknya persatuan politik tunggal yang agresif (solidaritas politik yang cair).
* Kekuatan: Dalam ekonomi kreatif masa kini, karakter egaliter dan santai justru menjadi modal utama. Kreativitas menuntut fleksibilitas pikiran, dan masyarakat yang tidak terbebani oleh hierarki kaku cenderung lebih adaptif terhadap inovasi digital.
VI. Kesimpulan
Ketertinggalan infrastruktur dan transfer informasi di wilayah Sunda bagian selatan pada masa lalu adalah konsekuensi logis dari tantangan geografis. Namun, tantangan tersebut justru melahirkan jati diri sosiopsikologi yang unik: masyarakat yang mandiri, egaliter, dan memiliki ketahanan mental yang tinggi. Di masa depan, integrasi antara nilai-nilai egalitarian tradisional dengan organisasi modern yang sistematis akan menjadi kunci bagi kebangkitan peran strategis suku Sunda di panggung nasional.
Daftar Pustaka Pendukung:
* Lubis, N. H. (1998). Kehidupan Kaum Priyayi Sunda 1900-1942.
* Ekadjati, E. S. (1984). Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah.
* Scott, J. C. (2009). The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia.
