Rahasia Pusat Kekuatan yang Tersembunyi di Tanah Parahyangan Mandala, Kekuasaan, dan Harmoni Alam

Daftar Isi

 


Konsep mandala dalam khazanah Sunda kuno bukan sekadar pola lingkaran atau simbol geometris, melainkan cara pandang menyeluruh terhadap dunia, kekuasaan, alam, dan diri manusia. Ia hidup bukan hanya di batu atau naskah, tetapi dalam cara orang Sunda menata ruang, memahami gunung, menghormati air, dan menempatkan manusia di antara langit serta bumi. Jika pada kebudayaan Jawa Tengah konsep mandala tampak megah dalam struktur seperti Candi Borobudur, maka di tanah Sunda ia tampil lebih sunyi, lebih menyatu dengan lanskap, seolah tidak ingin menonjolkan bentuk, melainkan makna.

Dalam kosmologi Sunda, gunung memegang posisi pusat yang amat penting. Gunung bukan hanya bentang alam, melainkan poros dunia, tempat bersemayam kekuatan adikodrati, titik pertemuan antara buana luhur (alam atas), buana tengah (dunia manusia), dan buana handap (alam bawah). Karena itu, banyak pusat pemukiman dan situs suci berada di sekitar kawasan pegunungan. Keberadaan Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Gede dalam imajinasi kolektif masyarakat Sunda bukan sekadar latar geografis, melainkan simbol pusat kosmis. Dalam kerangka mandala, gunung adalah inti, sementara lembah, sungai, dan pemukiman membentuk lingkaran-lingkaran yang mengitarinya. Alam tidak dilihat sebagai objek yang ditaklukkan, tetapi sebagai struktur sakral yang sudah memiliki tatanannya sendiri.

Jejak paling nyata dari konsep ini dapat dilihat pada situs seperti Situs Cangkuang. Candi kecil yang berdiri di tengah pulau, dikelilingi danau, memperlihatkan pola ruang yang khas: pusat yang suci dipisahkan oleh unsur air sebagai batas simbolik. Air berfungsi sebagai penyaring, pemisah antara dunia profan dan wilayah sakral. Siapa pun yang hendak menuju pusat harus menyeberangi air, sebuah perjalanan fisik yang sekaligus bermakna spiritual. Pola ini mencerminkan gagasan mandala bahwa semakin mendekat ke pusat, semakin tinggi tingkat kesucian dan kedalaman maknanya.

Berbeda dengan model negara modern yang ditentukan oleh garis batas tegas di peta, sistem kekuasaan Sunda kuno juga dapat dipahami melalui konsep mandala. Kerajaan tidak dibayangkan sebagai wilayah tertutup, melainkan sebagai pusat pengaruh yang memancar keluar. Pusat kerajaan memiliki kekuatan spiritual dan politik tertinggi, tetapi wilayah di sekelilingnya tidak selalu berada dalam kontrol administratif langsung. Hubungan dibangun melalui loyalitas, pertalian budaya, dan pengakuan simbolik. Semakin jauh dari pusat, pengaruh semakin longgar, namun tetap berada dalam orbitnya. Pola seperti ini tidak hanya terjadi di Sunda, tetapi menjadi ciri banyak kerajaan Asia Tenggara, termasuk dalam dinamika hubungan antara kerajaan Sunda dan kekuatan besar seperti Kerajaan Majapahit. Dalam kerangka mandala, kekuasaan bukan soal garis perbatasan, melainkan soal pusat gravitasi.

Konsep mandala Sunda juga tercermin dalam cara masyarakat menata kampung. Tata ruang tradisional memperlihatkan adanya pusat yang dihormati, entah itu bale adat, leuweung larangan, atau mata air keramat. Hutan tertentu tidak boleh ditebang karena diyakini sebagai ruang sakral penyangga keseimbangan kosmis. Sawah, ladang, dan rumah berada dalam lingkaran kehidupan yang mengikuti ritme alam. Semua memiliki tempat dan fungsi, tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan. Di sini mandala bukan gambar, melainkan praktik hidup.

Lebih dalam lagi, mandala Sunda mengajarkan keseimbangan antara lahir dan batin. Manusia dipandang sebagai bagian dari tatanan kosmis, bukan pusat yang berdiri sendiri. Jika pusat kosmis adalah gunung atau tempat suci, maka pusat dalam diri manusia adalah kesadaran dan budi. Ketika budi rusak, lingkaran kehidupan di sekitarnya ikut terganggu. Prinsip ini sejalan dengan pandangan bahwa harmoni sosial lahir dari harmoni batin. Masyarakat yang tertib bukan semata karena aturan keras, melainkan karena tiap individu menjaga pusat dirinya.

Keheningan menjadi salah satu ciri khas ekspresi mandala di tanah Sunda. Ia tidak membangun struktur raksasa yang menjulang tinggi, tetapi memilih menyatu dengan lanskap. Batu-batu sederhana, punden berundak, dan tata ruang kampung yang mengikuti kontur alam adalah pernyataan halus bahwa pusat tidak harus tampak megah untuk menjadi bermakna. Justru dalam kesederhanaan itu, pusat terasa lebih dalam, lebih intim, lebih dekat dengan keseharian manusia.

Dalam konteks modern, membaca kembali konsep mandala Sunda berarti belajar melihat hidup sebagai susunan berlapis dengan inti yang harus dijaga. Pusat bisa berupa nilai, iman, keluarga, atau prinsip hidup. Lingkaran luar bisa berupa bisnis, kekuasaan, atau pencapaian sosial. Jika lingkaran luar terlalu dibesarkan sementara pusatnya kosong, maka struktur akan rapuh. Sebaliknya, jika pusat kuat, maka lingkaran di sekelilingnya akan menemukan keseimbangannya sendiri. Mandala bukan nostalgia masa lalu, melainkan peta kesadaran yang tetap relevan.

Pada akhirnya, konsep mandala Sunda adalah ajakan untuk memahami bahwa dunia memiliki pusat-pusat sakral yang tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi dapat dirasakan oleh kesadaran. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu datang dari ekspansi tanpa batas, melainkan dari kemampuan menjaga inti. Di antara gunung, air, dan hutan yang membingkai tanah Sunda, mandala hidup sebagai bisikan lama: bahwa harmoni lahir ketika manusia tahu di mana pusatnya, dan bersedia berjalan perlahan untuk mendekatinya.